Indah dan Estetis Fenomena Ungkapan dalam Seni Lukis Tradisional Cina

Ariesa Pandanwangi

Abstract


Mengenal Seni Lukis Tradisional Cina

Lukisan tradisional Cina, secara visual, mata kita tak lepas dari bentuk (form), yakni; lukisan gulungan (scroll painting), kaligrafi Cina, CapiStempel merah, simbol yang diungkapkannya, lengkap dengan syair (C.M. Hsu, 1982; 21­24). Lukisan Tradisional Cina memiliki banyak ruang kosong, bidang kosong identik dengan keseimbangan itu sendiri (Ciang Yu Tie; 1987 ; 19). Seperti yang dikatakan Stephen C. Pepper dalam The Liang Gie, bahwa untuk mengatasi kemonotonan atau kesenadaart yang berlebihan dan juga aspek konfusi atau kekontrasan yang berlebihan, penyusun karya harus mampu dan berusaha untuk menampilkan keanekaan (variaty) dan kesatuan (unity) yang semuanya tetap mempertimbangkan  keseimbangan (The Liang Gie, 1976; 54). Dalam seni lukis tradisional Cina mempertimbangkan keseimbangan erat kaitannya dengan Yin dan Yang ( Fritz Van Briessen, 1968; 30-31). Ada dunia atas; Dewa, angkasa, gunung, laki-laki, baik, kanan, dsb. Sebagai pasangannya ada dunia bawah; manusia, laut, wanita, jahat, kiri, dsb (Primadi, 1995; 16).

Apa yang dipaparkan di atas bagi seniman sangat berkaitan antara melukis dan menulis indah (kaligrafi), hal ini tidak bisa dipisahkan dalam tradisi lukisan Cina. Lukisan dengan kaligrafi yang berupa sajak-sajak, mengikuti tradisi seni lukis Cina. Seniman selain menguasai tekniknya juga harus menguasai filosofinya. Dibalik keindahan seni lukis Cina ini terkandung filosofi Taoisme. Di antaranya manusia hanya merupakan bagian kecil dari alam semesta. Tanpa mendalami filosofinya mengapresiasi seni lukis tradisional Cina akan terasa kering, tak berjiwa.

 


References



Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.